Skip to main content

raja-pedang-38-kho-ping-hoo

"Semua orang memanggil aku Hong Hong, kau pun harus begitu."



 



”Baiklah Hong Hong...... tentang pertanyaanmu tadi, sebagai tamu tentu saja i. aku harus melayani totiang dan membantu para tosu di sini. Tentang kau..... bukankah kau sudah ada tiga orang te-man baik? Aku..... aku bodoh dan lemah, mana kau suka bicara dengan aku?"



 



"Rendah hati! Selalu rendah hati, ke mana kenakalanmu yang dulu? Aku lebih suka kau seperti dulu. Berani dan som-bong! Eh, Beng San, tahukah kau?" Gadis itu mendekat dan bicaranya bisik-bisik, "Menghadapi perayaan seratus tahunan ini, sukong dan ayah menganjurkan kami semua ciak-jai (makan sayur pantang barang berjiwa). Wah, setengah mati aku. Harus satu bulan penuh ciak-jai, mana aku kuat? Tadi aku melihat di sana..... ada kelinci gemuk sekali. Hayo kau te-mani aku ke sana, aku tangkap kelincl, kau yang memanggangnya, aku yang makan."



 



Menghadapi seorang dara seperti ini, mana bisa orang bersikap dingin dan pendiam? Demikian pun Beng San. Timbul kenakalannya yang dulu. Kalau dituruti saja gadis ini, bisa-bisa dia disuruh menggunduli kepalanya sendiri!



 



"Enaknya kau ini! Kalau kau ingin makan daging, pergi kautangkap sendiri, kau masak sendiri. Setelah matang, baru kau panggil aku dan beri bagian. Sebagai tamu sudah sepantasnya aku menerima jamuanmu."



 



"Eh, banyak bantahan, bodoh kau! Bukannya karena aku tidak bisa memanggang sendiri. Aku minta bantuanmu karena kalau sampai ketahuan sukong, aku tldak akan mendapat marah. Bukankah kau yang memanggang daging dan bukan aku? Kautolonglah aku, aku sudah ke-r mecer (ingin sekali).....!"



 



Beng San tersenyum menggoda "Kalau aku tidak mau.....?"



 



Mulut yang manis itu cemberut. "Kalau tak mau, aku akan maki kau.....bung....." la berhenti dan tidak melanjutkan makiannya. Beng San tahu bahwa dia akan dimaki bunglon, maka dia tertawa.



 



"Nona..... eh, Adik Hong. Kau ini aneh. Punya teman baik tiga orang di sini, kenapa tidak mengajak mereka? Kenapa kau mengajak aku bersekongkol. Ajaklah mereka bertiga itu."



 



"Huh, kau tahu apa? Mereka bertiga itu tidak mempunyai nyali."



 



"Tidak punya nyali? Apa maksudmu?"



 



"Mana mereka berani melanggar la-rangan sukong? Hayolah, jangan putar-putar omongan. Kau mau atau tidak?"



 



Tentu saja tidak mungkin bilang "tidak mau" terhadap desakan seorang dara seperti Kwa Hong. "Baiklah..... baiklah....." Beng San berkata dan serentak Kwa Hong memegang lengannya terus menarik-nya mengajaknya lari cepat sekali.



 



"Eh..... eh..... bagaimana ini..... ih, Nona..... eh, Hong Hong, aku jatuh nan-ti....." Beng San berteriak-tenak lirih.



 



"Cepat sedikit kenapa sih? Kau ini laki-laki atau perempuan?"



 



Jantung Beng San berdebar. Teringat dia akan gadis baju hijau bernama Eng. Kenapa sama benar pendapat Eng dan Hong? Eng dahulu juga bertanya seperti itu.



 



"Kaulihat saja sendiri. Aku ini laki-laki atau perempuan?" balasnya seperti dulu pula ketika dia menjawab pertanyaan Eng. Gadis baju hijau itu dahulu mengatakan bahwa dia bukan laki-laki bukan perempuan, tapi banci. Apa yang akan dikatakan Kwa Hong?



 



Kwa Hong tertawa, lalu membentot lagi tangan Beng San diajak lari melalui tempat yang tersembunyi. "Tentu saja kau laki-laki, tapi laki-laki yang lemah melebihi perempuan."



 



"Kau tidak suka? Kau kecewa melihat aku lemah seperti perempuan?"



 



"Tidak...... tidak.....' Aku malah suka melihat kau lemah seperti ini. Laki-laki yang berkepandaian selalu bertingkah, berlagak pandai dan gagah sendiri. Cih, menjemukan malah. Kalau kau berkepandaian tentu kau pun akan berubah tingkahmu, tentu berlagak dan sombpng seperti..... seperti....."



 



"Seperti Kui Lok dan Thio Ki?" Beng San menyambung.



 



Kwa Hong melepaskan tangannya. Mereka berdiri berhadapan di bawah sinar bulan purnama, saling pandang.



 



"Kenapa kau berkata begitu?" tuntut Kwa Hong.



 



"Mudah saja. Kau hanya melihat dua orang itu di sini, tentu merekalah yang kaujadikan perbandingan. Akan tetapi kau keliru, Adik Hong yang manis. Banyak di dunia ini laki-laki berkepandaian yang tidak sombong seperti mereka."



 



"Coba ulangi lagi....."



 



"Ulangi apa?"



 



"Sebutanmu terhadapku tadi....."



 



"Adik Hong yang manis?"



 



Kwa Hong tertawa girang, matanya berseri memandang kepada Beng San. Pemuda ini merasa kagum dan heran akan kepolosan hati gadis ini. Masih seperti kanak-kanak saja, begitu girang kalau dipuji. Ia tidak ingat sama sekali betapa Kwa Hong tidak senang, malah nampak marah dan bosan ketika dipuji-;puji oleh Kui Lok dan Thio Ki. Kini gadis itu tertawa-tawa memandang kepadanya, mukanya menjadi merah dan matanya bersinar-sinar.



 



"Beng San, tidak bohongkah kau?"



 



"Bohong tentang apa?"



 



"Bahwa aku manis..... betulkah itu?"



 



Beng San merasa geli. Aneh memang wanita, kadang-kadang seperti kanak-kanak, sewaktu-waktu malah seperti ibu. "Tentu saja kau manis, kau cantik sekali, | Hong Hong. Ketika melihatmu, hampir aku tidak mengenalmu lagi."



 



"Kau dulu bilang aku seperti kuntilanak ..........”



 



Beng San tertawa ditahan. "Habis, kau pun memaki aku seperti bunglon sih. Apa mukaku benar-benar seperti bunglon? Hayo katakan!"



 



Kwa Hong berhenti melangkah, menoleh dan memandang kepada Beng San.



 



"Tidak, dulu memang kau buruk sekali, lebih buruk daripada seekor bunglon! Tapi sekarang..... hemmm, kalau saja kau pandai silat, kiranya kau lebih gagah dan ganteng daripada Lok-ko atau pun Ki-ko”.



 



Muka Beng San menjadi merah juga menerima pujian yang begini terus terang dari Kwa Hong. Gadis im memang beran dan jujur bukan main. Mereka berlari lagi.



 



”Hayo cepatan sedikit, takut kemalaman" kata Kwa Hong sambil mempercepat alarinya.



 



”Nah, itu dia ....” Mata Kwa Hong yang tajam sudah melihat beberapa ekor kelinci berlari-larian menyusup rumpun ilalang. Cepat ia mengejar. Akan tetapi binatang-binatang itu biarpun pendek pendek kakinya, ternyata dapat berlan cepat dan gesit sekali. Ditubruk sana menyusup sini, dicegat sini lan ke sana. Kwa Hong sambil tertawa-tawa seperti anak kecil mengejar-ngejar kelinci memilih yang paling gemuk.



 



Beng San menjadi gembira juga melihat ini. Timbul sifat kanak-kanaknya dan dia pun ikut tertawa-tawa dan mengejar ke sana-sini. Tapi kelinci yang paling gemuk lari ketengah hutan, dikejar kwa Hong. Beng San juga mengejarnya. Kelinci itu memang amat gemuk lag pula masih muda dan bulunya putih bersih. Tentu enak lunak dan sedap dagingnya.



 



Di bawah sebatang pohon besar Kwa Hone berhasil menangkap kelinci, dipegang pada dua telinganya. Gadis itu tertawa-tawa gembira, sambil memegangi binatang yang meronta-ronta itu.



 



"Nah, dapat yang gemuk im. Beng San, nih kaubawa dan kau yang bertugas menyembelih dan memanggangnya!



 



Sambil tertawa Beng San menenma kelinci itu. Tiba-tiba terdengar auman keras sekali sampai bumi yang mereka Pijak seakan-akan tergetar, daun-daun-Pohon bergoyang-goyang dan yang kermg rontok berhamburan. Kwa Hong men)adl pucat dan mencabut pedangnya.



 



"Beng San..... cepat, kaupanjat pohon ini'" la mendorong-dorong tubuh Beng San arah batang pohon, dia sendri menjaga keselamatan Beng San dengan pedang di tangan.



 



”Kenapa aku mesti memanjat pohon?"



 



"Rewel kau! Ada harimau..... biar aku melawannya, tetapi kau..... kau harus memanjat pohon. Susah kalau melawan dan sekaligus melindungimu....." Gadis itu berbisik, matanya tetap memandang ke arah gerombolan alang-alang yang sudah mulai bergerak-gerak.



 



Beng San tersenyum geli dan juga kagum disertai terima kasih. Betapapun galaknya, gadis ini ternyata berhati baik terhadapnya. Seorang diri hendak meng-hadapi harimau, sedangkan dia disuruh menyelamatkan diri di atas pohon! Gadis mana segagah ini? Karena Kwa Hong sedang mencurahkan perhatiannya ke arah gerombolan alang-alang, gadis ini tidak melihat betapa dengan amat mudah-nya, sambil membawa kelinci itu, Beng San sebentar saja sudah duduk di atas dahan pohon yang tinggi.



 



Dugaan Kwa Hong terbukti. Seekor harimau muncul perlahan-lahan dari ge-rombolan alang-alang itu. Beng San sam-pai kaget melihatnya. Harimau yang besar sekali, sebesar anak sapi Kepalanya besar, matanya sipit berkilauan, taringnya diperlihatkan dan kulitnya loreng-loreng agak putih.



"Hati-hatilah kau...... Hong-moi (adik Hong).....!" kata-kata ini keluar dari hati Beng San. Pemuda ini belum pernah menghadapi seekor harimau yang kelihat-i an demikian mengerikan, tentu saja dia menjadi gelisah sekali. Biarpun dia sudah maklum bahwa dirinya memiliki bekal ilmu yang tinggi dan tenaga yang hebat, namun karena belum pernah berhadapan dengan binatang buas sebesar itu, dia merasa khawatir akan keselamatan Kwa Hong.



 



Kwa Hong mengahgkat tangan kiri arah Beng San dengan maksud supaya pemuda itu tenang dan jangan khawatir. Hatinya lega mendengar suara Beng San dari atas, tanda bahwa pemuda itu sudah berada di atas pohon. Akan tetapi, agak-nya gerakan tangan kirinya itu menjadi isyarat bagi sang harimau untuk ber-gerak. Dengan suara geraman hebat, tu-buhnya yang tadi agak mendekam se-karang meloncat tinggi menerkam ke arah Kwa Hong demgam tenaga yang dasyat.



 



”Awas .....’ Beng San berseru, seluruh urat di tubuhnya menegang dan dia sudah siap dengan kelinci di tangan untuk turun tangan menolong seandainya gadis itu terancam bahaya. Akan tetapi, lega hatinya ketika dia melihat betapa dengan 1 gerakan yang amat lincah gadis itu telah dapat meloncat ke sisi dan tubuh hari-mau yang besar itu lewat cepat me-ftubruk tempat kosong. Pedang gadis itu berkelebat, tapi meleset tak dapat me-nusuk perut harimau karena ekor hari-mau yang panjang itu menyabet dan menangkis!



 



Dengan geraman mengerikan harimau ttu sudah membalik dan menubruk lagi, lebih dahsyat daripada tadi. Akan tetapi, begitu melihat gerakan Kwa Hong tadi, Beng San lenyap kekhawatirannya. Se-karang dia malah memandang kagum. la mendapat kenyataan bahwa gerakan gadis ini benar-benar lincah dan cepat sekali, dan dari gerakan-gerakan itu dia bisa mendapat kenyataan bahwa kepandaian. Kwa Hong tidak kalah oleh Thio Bwee maupun Kui Lok dan Thio Ki! . Namun, setelah diserang empat lima kali, belum juga Kwa Hong dapat menusuk harimau itu, selalu tusukannya meleset saking cepatnya harimau itu mengelak, atau menangkis dengan cakar dan ekornya.



 



"Bacok kaki belakangnya.....!" Beng San yang mulai khawatir lagi memberit nasihat.



 



Harimau melompat lagi, gadis itu yang agaknya sadar akan akal yang diteriakkan Beng San, tidak meloncat ke pinggir untuk mengelak seperti tadi, malah menerobos ke depan, ke bawah tubuh harimau yang sedang melompat tinggi menubruknya. Kemudian, sebelum tubuh harimau tiba di tanah, gadis ini sudah menggerakkan kaki membalik, pedangnya berkelebat dan..... harimau itu roboh dengan paha belakang sebelah kanan robek oleh sabetan pedang! la menggereng, mencoba untuk merangsang lagi» namun karena luka itu gerakannya me -jadi kurang cepat. Dengan mudah Kua Hong mengelak dan mengirim bacokan-bacokan bertubi-tubi ke arah kedua katd belakang. Setelah binatang buas itu roboh tak berdaya karena kedua kaki belakang-nya hampir putus, dengan mudahnya Kwa Hong menusukkan leher dan perutnya. Harimau itu mengeluarkan auman terakhir, tubuhnya berkelojotan lalu diam tak bergerak lagi. la mati mandi darah di depan kedua kaki dara perkasa itu!



 



Beng San melorot turun, !atu ber-tepuk tangan. "Hebat..... hebat..... kau gagah sekali, Hong Hong....."



 



"Kau tadi menyebutku Hong-moi....."



 



Beng San mengingat-ingat. Betul saja, dalam kekhawatirannya tadi dia menyebut adik Hong kepada gadis itu. Wajahnya memerah.



 



"Memang aku iebih tua, sudah pantas menyebutmu Hong-rnoi. Boleh, kan?"



 



"Tentu saja boteh. Kau malah berjasa. Kalau tidak kauingatkan untuk menyerang kaki belakangnya, agaknya akan lama untuk dapat merobohkannya. Eh, mana kelinci tadi?"



 



Beng San mengambil kelinci yang tadi dikempit di antara kedua pahanya ketika dia bertepuk tangan. Gadis itu tertawa dan membersihkan pedang pada bulu harimau. "Hayo kita pulang, sudah ham-pir gelap dan perutku makin lapar saja oleh perkelahian tadi."



 



"Bangkai harimau itu..... kan dagingnya enak dan dapat menambah kuat tubuh. Pula, kulitnya juga indah sekali, sayang kalau dibiarkan saja membusuk di sini."



 



"Bawalah kalau kau mau. Tapi..... terlalu banyak daging itu, tidak akan habis. Kalau sukong melihatnya, bukankah akan terbuka rahasiaku?"



 



"Jangan khawatir, kau yang mem-bunuhnya karena diserang harimau, aku yang makan dagingnya."



 



"Dan aku akan mendapat bagian de-ngan diam-diam." Kwa Hong tertawa-tawa. "Kau cerdik sekali, Beng San..... eh, tak enak juga kalau kau menyebutku adik tapi aku menyebut namamu begitu saja. Kau bijang leblh tua, sebetulnya berapa sih usiamu? Aku sudah delapan belas tahun!"



 



Beng San tertawa. "Sedikitnya aku dua tahun lebih tua dari padamu. Kau seharusnya menyebut kakak kepadaku."



 



"Hemmm, San-ko (kakak San)..... hemmm, enak juga terdengarnya. Baiklah Beng San koko, kaubawa bangkai harimau itu. Tapi dagingnya terlalu banyak, ak-kan termakan habis olehmu dibantu oleh-, ku secara diam-diam."



 



"Jangan khawatir, selebihnya dapat i ( kubuat dendeng. Kau punya banyak ga-ram, kan?"



 



"Bisa kucuri dari dapur para supek tukang masak!" Kwa Hong tertawa nakal.



 



"Aha, kulihat kau hanya maju dalam ilmu silat, Agaknya segaia petuah sukong-mu tentang ke-bajikan tak pernah kau-taati, buktinya kau mau nyolohg garam." Keduanya tertawa lagi dan Beng San segera memanggul bangkai harimau se-telah menyerahkan kelinct kepada K'wa Hong.



 



"Eh, tak kusangka. Kau kuat juga, Bangkai harimau ini sedikitnya ada lima puluh kilo! Kwa Hong memandang kagum. Beng San terhuyung-huyung, kelihatan berat Baru teringat bahwa dia hendak menyembunyikan kepandaian. Hampir saja dia lupa kalau Kwa Hong tidak memujinya. la cepat-cepat beraksi dan kelihatan amat berat menggendong bangkai itu.



 



"Wah, berat sekali....."



 



Kwa Hong tersenyum, "Tapi kau kuat I menggendongnya. Hemmm, kiranya kau tidak begitu lemah seperti yang kukira. Sayang kau tidak belajar ilmu silat."



 



"Tadi kaubilang lebih baik aku tidak bisa silat," Beng San memperingatkan.



 



Kwa Hong mengangkat kedua pundak-nya, gerakan yang manis dipandang.



 



"Bukan begitu maksudku..... entahlah, yang tak kusuka adalah sikap angkuh dan jumawa, menganggap diri sendiri paling pandai dan kuat. Sikap wilah yang tak kusuka, sikap yang bar»yak terdapat di kalangan orang kang-ouw."



 



"Kau benar," Beng San nnengangguk-angguk, "dan kiranya sikap yang demikian itu pula, sikap mau menang sendiri dan tidak mau mengalah sedikit pun juga, yang meniinbulkan keributan-keributan dan pernnusuhan-permusuhan di antaral golongan yang satu dengan golongan yang lainnya."



 



Dua orang muda itu makin lama merasa makin cocok. Watak Beng San yang sederhana, jujur, sabar dan kadang-kadang dapat pula jincah jenaka dapat iieng-imbangi watak Kwa Hong yang hncah» , gembira dan ada kalanya keras ada kalanya halus lembut penuh kemesraan Tak mengherankan bahwa dalam beberapa hari itu mereka nampak makin akrab dalam pergaulan. Kwa Hong yang mem-punyai hati terbuka, secara terang-terang-an memperlihatkan kesukaannya bergaul dengan Beng San sehingga tentu saja dua orang pemuda Hoa-san-pai, Kui Lok dan Thio Ki, merasa dada mereka seperti mau meledak saking panas hatinya. Akan tetapi, Beng San adalah seorang tamu Hoa-san-pai, selalu agaknya sukong mereka suka kepada Beng San, juga Kwa Hong selalu "melindunginya". Di lain fihak, Thio Bwee bernapas lega melihat bahwa Kwa Hong temyata tidak menaruh pechatian kepada Kui Lok, pemuda idaman hatinya itu.



 



* * * *



 



Beng San mendapat kenyataan betapa cocok kata-kata Tan Hok ketika men-ceritakan tentang keadaan Hoa-san-pai dalam permusuhannya dengan Kun-lun pai. Tidak saja dia melihat banyaknya tosu Hoa-san-pai yang berkumpul di gu-nung itu, mendekati seratus jumlahnya, namun menjelang datangnya hari peraya-an ulang tahun ke seratus dari Hoa-san-pai, berturut-turut datang murid-murid Hoa-san-pai yang tinggal jauh dari Gu-nung Hoa-san. Tiga hari sebelum hari perayaan, di situ sudah berkumpul se-luruh anggauta Hoa-san-pai yang jumlah-nya mendekati seratus dua puluh orang! Keadaan Hoa-san-pai benar-benar angker. Tosu-tosu dengan pakaian putih seragam melakukan penjagaan dengan sikap mereka yang alim dan gagah. Jalan kecil yang menuju ke pendakian puncak itu, dihias dengan bunga-bunga kertas, setiap seperempat kilometer dijaga oleh tiga orang tosu di pinggir jalan, merupakan tiang-tiang hidup. Hal ini diadakan bukan hanya untuk memberi penghormatan ke-pada para tamu, akan tetapi kiranya terutama sekali untuk "unjuk gigi" ke-pada tamu yang datang dengan maksud-maksud buruk tertentu.



 



Sebagai sebuah partai besar yang sudah terkenal namanya di seluruh dunia kang-ouw, kali ini Hoa-san-pai mengadakan persiapan besar-besaran. Jauh beberapa hari sebelumnya, para tosu sudah sibuk berbelanja, menyediakan segala ba-han makanan dan minuman untuk men-jamu para tamu. Ratusan bangku baru dibnat dan diatur di ruangan depan. Ru-angan ini menjadi luas sekali karena diberi tambahan darurat. Ruangan yang amat luas ini dibagi-bagi, untuk para tamu kehormatan di sebelah dalam meng-hadap keluar, untuk tamu wanita di se-belah kiri ,agak tertutup, dan untuk yang muda-muda di sebelah kanan. Di bela-kang tempat ke tiga iniiy yang paling luas, disediakan bangku-bangku panjang untuk tempat para tamu lain yang di-anggap sebagai pengikut-pengikut saja. Fihak tuan rumah mengambil tempat di ruangan yang mepeit dinding dalam, de-kat tempat tamu kehormatan, membelakangi pintu besar yang menuju ke dalam "rumah besar. Di tengah-tengah ruangan merupakan tempat terbuka yang cukup luas untuk memberi tempat bagi para pelayan hilir-mudik.



 



Menurut berita yang dibawa oleh para tosu penjaga kaki gunung, dua hari se-belum pesta dinnulai, sudah banyak sekali tamu datang sampai di kaki Gunung Hoa-san. Mereka menginap di kampung-kampung, menanti datangnya hari yang ditentukan untuk mendaki puncak. Tentu saja para tosu itu di antaranya ada yang bertugas menyelidiki siapa-siapa yang akan datang, kawan ataukah lawan!



 



i|gy;-Pada hari itu, pagi-pagi sekali telah ketihatan para tamu berbondong-bondong mendaki puncak Hoa-san. Banyak sekali dan para tosu Hoa-san-pai yang menjaga di sepanjang jalan sampai ke puncak, mewakili ketua mereka, melihat dengan kaget betapa partai-partai lain datang lengkap dengan anak murid yang pilihan. Bahkan partai-partai Khong-tong-pai, Bu-tong-pai, dan Bu-eng-pat datang dengan puluhan orang anak murid masing-masing merupakan pasukan yang kuat! Lian Bufc Tojin memang tidak mau memperlihatkan diri lebih dulu, malah dia sengaja me-larang Kwa Tin Siong, Liam Sian Hwa dan cucu-cucu muridnya untuk keluar lebih dulu sebelum para tamu lengkap. Kakek ini amat berhati-hati. la mau melihat murid-murid dan cucu-cucu murldnya muncul lalu dipancing oleh fihak lawan untuk mengacaukan pesta ulang tahun perkumpulannya. Setelah ru», angan tamu di depan telah penuh oleh para tamu, barulah Lian Bu Tojin diiringkan oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa» Kwa Hong, Thio Bwee, Thio Ki dan Kui Lok, keluar dari dalam menuju ke tempat duduk yang disediakan untuk fihak tuan rumah. Para tamu segera berdin memberi hormat yang dibalas oleh Kwe Tin Siong dan yang lain-lain. Adapuri Lian Bu Tojin sebagai seorang yang ting-katnya lebih tinggi, hanya mengangguk dan hanya mengangkat kedua tangan membalas penghormatan para tamu yang duduk di bagian terhormat.



 



Biarpun baru sekarang Lian Bu Tojin keluar, namun kakek ini sudah tahu siapa saja tamu-tamunya yang hadir. Tadi Kwa Tin Siong mengintai dari dalam dan mem-beri tahu kepada gurunya tentang para tamu yang sebagian besar dikenal oleh jago pertama dari Hoa-san-pai ini. Yang amat mengherankan hati Lian Bu Tojin dan Kwa Tin Siong adalah ketidakhadiran orang-orang Kun-lun-pai. Padahal mereka melihat bahwa Khong-tong-pai dan Bu-;eng-pai, dua partai yang selalu mem-perlihatkan sikap membela Kun-lun-pai, sudah lengkap hadir di situ. Diam-diam mereka juga merasa girang dengan hadir-nya jago-jago dari Bu-tong-pai, karena partai ini selalu memperlihatkan sikap baik kepada Hoa-san-pai dengan Kun-lun-pai.



 



Banyak terdapat jago-jago silat yang sudah terkenal namanya hadir di ruangan itu. Nama Hoa-san-pai sudah terlalu terkenal sehingga kali ini dapat menarik kedatangan jago-jago silat dari seluruh negeri. Tapi yang paling penting disebut-kan di sini hanyalah beberapa orang saja. Di antaranya.pemimpin rombongan Khong-tong-pai, seorang laki-laki gemuk pendek berusia lima puluh tahun. Dia idalah murid pertama dari Khong-tong-pa bernama Liu Ta, seorang ahli Iweeke dan ahli golok. Karena terlalu dipercayu oleh gurunya yang sudah tua, Liu Ta ini se-ring kali bertindak mewakili Khong-tong-pai tanpa setahu gurunya.



 



Dari fihak Bu-eng-pai, rombongannygi dipimpin oleh dua orang jago Bu-eng-pai yang sudah terkenal namanya, yaitu Ang Kim Seng yang tinggi kurus berusia empat puluh tahun lebih dan adiknya, Ang Kim Nio yang cantik genit berusia tiga puluh tahun lebih. Kakak beradik ini terkenal sebagai ahli pedang dari Bu eng-pai. Seperti juga fihak Khong-tong-pai, kakak beradik ini lebih condong membantu Kun-lun-pai daripada Hoa-san-pai.



 



Beng Tek Cu, seorang tosu yang ting-gi besar bermata lebar adalah seorang tokoh Bu-tong-pai, usianya lima puluh lima tahun. Orangnya jujur dan keras hati, tapi kepandaiannya tinggi dan nama-nya ditakuti brang-orang jahat karena tosu Bu-tong-pai ini tak pernah menaruh kasihan kepada para penjahat. la men-jadi sahabat Kwa Tin Siong, maka dalam urusan antara Hoa-san dan Kun-lun, tosu tinggi besar ini dan rombongannya ber-fihak kepada Hoa-san-pai.



 



Masih banyak tokoh-tokoh besar yang hadir di pertemuan itu, akan tetapi agak-nya akan terlalu panjang kalau disebut-sebut satu persatu. Yang patut disebut kiranya hanya mereka yang duduk di ruang tamu kehormatan, yaitu pemimpin • tiga rombongan yang telah disebut tadi untuk menghormat nama besar partai yang mereka wakili dan ada beberapa orang kakek lagi, yaitu dua orang hwe-sio, dua orang kakek petani dan tiga orang tosu. Mereka ini adalah tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang kenal dengan pribadi Lian Bu Tojin, jadi tidak mewakili sesuatu partai. Akan tetapi karena mereka ini tergolong orang-orang lihai dan setingkat, maka mereka diper-silakan duduk di ruang tamu kehormatan.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...