Skip to main content

Posts

Jaka Lola 25 -> karya : kho ping hoo

Betapapun juga, keroyokan ular-ular itu membuat Cui Sian repot. Menghadapi Ang-hwa-Nio-nio saja ia sudah mengerahkan seluruh perhatiannya karena memang wanita itu amat ganas dan berbahaya, apalagi sekarang dibantu oleh Ouwyang Lam yang tidak rendah kepandaiannya. Maka sambaran ular-ular dari belakang dan kanan kiri, benar-benar membuat ia sibuk sekali dan ngeri. la maklum bahwa sekali saja tergigit ular hijau, nyawanya takkan tertolong lagi. Sudah puluhan ekor ular terbabat mati oleh pedangnya, dan bangkai ular itu bertumpuk dan berserakan di sekelilingnya, menyiarkan bau yang amis dan memuakkan, bau yang mengandung racun pula. Cui Sian terkejut dan berusaha sedapat mungkin untuk menahan napas mengerahkan sinkang melawan bau yang memuakkan itu. Akan tetapi karena di lain fihak ia diserang hebat oleh Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam dan di-ancam pula semburan ular-ular beracim, berkali-kali perhatiannya terpecah dan tappasengaja ia menyedot dan terserang bau amis itu. Kepalanya mulai pen...

Jaka Lola 24 -> karya : kho ping hoo

Namun, Im-yang-sin-kun adalah ilmu yang bersumber kepada Im-yang-bu tek-cin-keng, merupakan rajanya ilmu silat dan telah mencakup inti sari daripada semua gerakan silat. Ilmu silat yang di-miliki Pendekar Buta sendiri pun bersumber pada ilmusilat ini, demikian pula ilmu-ilmu silat dari semua partai bersih. Andaikata masa latihan Cui Sian sedemi-kian lamanya seperti Ang-hwa Nio-nio, jangan harap ketua Ang-hwa-pai itu akan dapat menang. Sekarang pun, karena kalah matang dalam latihan, biar tak dapat mendesak lawan, namun Cui Sian niasih dapat mempertahankan diri dengan baik. Memang kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga karena terus-menerus mempertahankan diri tanpa mampu membalas, akan tetapi akan memakaif waktu lama sekali. Siu Bi menonton pertempuran Itu dengan hati tegang. Matanya yang sudah terlatih akan ilmu-ilmu silat tinggi dapat membedakan sifat kepandaian dua orang yang sedang bertanding itu. Terjangan-terjangan Ang-hwa Nio-nio bersifat ganas dan kasar, didorong oleh ha...

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...

Jaka Lola 22 -> karya : kho ping hoo

Cui Sian menoleh dan tersenyum mengejek. "Julukannya saja Cui-beng (Pengejar Roh), biarpun cantik seperti Kwan Im, tetap saja jahat. Bocah masih ingusan, siapa takut padamu? Kutunggu kau di darat dan aku tanggung kau akan kulempar sekali lagi ke dalam air!" Siu Bi memaki-maki, akan tetapi apa dayanya? Mengejar perahu itu yang tak mungkin. Lain dengan Ouwyang Lam biarpun amat mendongkol dan malu, namun segera bersuit nyaring memberi aba-aba kepada anak buahnya. Beberapa buah perahu hitami meluncur cepat dari balik alang-alang, menghampiri Ouwyang Lam dan Siu Bi yang kini sudah berhasil membalikkan perahu dan melompat ke dalam perahu dengan pakaian basah ku-yup. "Kejar iblis betina itu, gulingkan pe-rahunya dan tangkap dia. Ingat, harus gulingkan perahunya lebih dulu!" perintah Ouwyang Lam ini segera ditaati oleh tiga buah perahu yang masing-masing berpenumpang tiga orang. Sembilan orang ahli air Ang-hwa-pai melakukan penge-jaran. Ouwyang Lam dan Siu Bi meng-ikuti dar...

Jaka Lola 21 -> karya : kho ping hoo

Sementara itu, Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa di pulau setelah berhasil nnelernparkan kedua orang tosu ke dalam air. "Jangan ganggu, biarkan mereka pergi!" teriak Ouwyang Lam kepada para anggauta Ang-hwa-pai sehingga beberapa orang yang tadinya sudah berinaksud melepas anak panah,terpaksa membatal-kan niatnya.. Siu Bi juga merasa gembira. Ia Sudah membuktikan bahwa ia suka membantu Ang-hwa-pai dan sikap Ouwyang Lam benar-benar menarik hatinya. Pemuda ini sudah pula membuktikan kelihaiannya, maka tentu dapat menjadi teman yang baik dan berguna dalam mepghadapi mu-suh besarnya. "Adik Siu Bi, bagarmana kalau kita berperahu mengelilingi pulauku yang in-dah ini? Akan kuperlihatkan kepadamu keindahan pulau dipandang dari telaga, dan ada taman-taman air di sebelah selatan sana. Mari!" Siu Bi mengangguk dan mengikuti Ouwyang Lam yang berlari-larian meng-hampiri sebuah perahu kecil yang berada di sebelah kiri, diikat pada sebatang pohon. Bagaikan dua orang anak-anak sed...

Jaka Lola 20 -> karya : kho ping hoo

"Maaf, Ji-wi Totiang. Bukan makslidku mengganggu Ji-wi, melainkan saya mo-hon bertanya, telaga ini telaga apakah namanya dan pulau di depan itu pulau apa, siapa yang tinggal di sana?" Kung Thi Tosu dan sutenya saling pandang, kemudian Kung Thi Tosu ber-tanya, "Nona bukan orang sana? Bukan anggauta Ang-hwa-pai?" Kini gadis itu yang memandang heran, "Bukan, Totiang. Kalau saya orang pulau itu, masa masih bertanya-tanya. Saya seorang pelancong yang tertarik akan keindahan telaga ini, dan ingin sekali tahu nama telaga dan pulau itu." "Wah, kalau begitu, lebih baik Nona lekas-lekas pergi dari tempat ini. Amat 'berbahaya, Nona. Pulau di depan itu adalah Ching-coa-to, pusat perkumpulan Ang-hwa-pai. Kami berdua tosu dari Kun-lun-pai baru saja terlepas daripada bahaya maut." "Akan tetapi tidak terlepas daripada" penghinaan hebat!" sambung KungLoTosu. Gadis itu tampak mengerutkan alisnya yang hitam dan bagus bentuknya. "Di sepanjang...

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?" Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka...