Skip to main content

Posts

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?" Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka...

Jaka Lola 18 -> karya : kho ping hoo

Tempat itu kini penuh dengan para anggauta Ang-hwa-pai dan semua orang memandang Siu Bi penuh perhatian. Mereka bersikap hormat ketika ketua mereka muncul. Si rambut putih dan si brewok juga segera berlututniemberi hormat, lalu berdiri lagi. Pandang mata Ouwyang Lam unfuk sejenak menjelajahi Siu Bi dari rambut sampai ke kaki, kemudian menoleh ke-pada si rambut putih. Adapun Ang-hwa Nio-nio segera menegur. "Betulkah seperti yang kudengar bah-wa bocah ini telah membunuh A Bian? Mengapa kalian tidak segera membunuhnya dan perlu apa dibawa-bawa ke sini?" "Maaf, kami sengaja menangkap dan tnembawanya ke sini agar mendapat pu-tusan sendiri tentang hukumannya dari Paicu dan Kongcu," kata si rambut putih dengan nada suara menjilat. "Pula, bagai-mana kami dapat membuktikan tentang kematian A Bian kalau pembunuhnya Udak kami seret ke sini?" "Hemmm, bocah yang berani mem-bunuh seorang pembantuku, apalagi hu-kumannya selain mampus? Biar aku sen-diri membunuhnya!...

Jaka Lola 17 -> karya : kho ping hoo

Tiba-tiba ia tersentak kaget dan ber-henti. Di depan kakinya tergeletak sehelai saputangan sutera kuning. Bukankah ini saputangan yang dia lihat tadi mengikat rambut Siu Bi? Dipungutnya saputangan itu dan jari-jari tangannya menggigil. Saputangan itu berlepotan darah! Sepasang matanya menjadi beringas ketika ia menoleh ke kanan kiri, lalu dia meloncat ke atas pohon, memandang ke sana ke mari. "Nona Siu Bi! Di mana kau.....!! .....!" li berseru memanggil. Tetap sunyi tiada jawaban. "Celaka, apa artinya ini.....?" Yo Wan meloncat turun lagi, memandangi sapu-tangan di tangannya. "Jangan-jangan....." la tidak berani melanjutkan kata-kata hatinya, melainkan mengantongi kain sutera itu dan berkelebat cepat ke depan untuk melakukan pengejaran lebih cepat lagi. Apakah yang terjadi dengan diri Siu Bi?. Gadis itu merasa amat marah, penasaran, malu dan keeewa sekali setelah mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaiannya jauh kalah oleh Yo Wan. Memang Siu Bi berwatak ane...

Jaka Lola 16 -> karya : kho ping hoo

"Juga kebetulan aku melihat pedang ini terlepas dari tanganmu, aku tidak ingin pengawal-pengawal itu merampasnya, maka kubawa sekalian. Nah, kiranya cukup obrolan kita yang amat menyenangkan hati ini. Aku tak pernah tolong kau dan kau tak pernah ada urusan denganku. Kita sama-sama bebas, tidak ada urusan apa-apa. Selamat tinggal." Yo Wan berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan Siu Bi. Seperti malam tadi, Siu Bi memandang dengan mata tak berkedip, ketika bayangan Yo Wan hampir lenyap di sebuah tikungan, ia teringat sesuatu dan cepat melompat mengejar sambil berseru, "Heee, berhenti dulu!!" Yo Wan berhenti dan membalikkan, tubuh perlahan. Dilihatnya gadis itu ber-loncatan sambil membawa pedang. Hemm, jangan-jangan gadis itu akan menyerangnya, siapa dapat menduga isi hati gadis liar dan buas seperti itu? "Ada apa lagi? Hendak menghaJarku?" tanyanya. Siu Bi menggelengkan kepala, tapi mulutnya masih cemberut. "Tergantung dari jawabanmu," katanya,...

Jaka Lola 15 -> karya : kho ping hoo

Kini Siu Bi yang tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya. Celaka, pikirnya. Pemuda ini benar-benar tak tahu malu, terang-terangan bilang suka dan kagum dan ingin menjadi sahabat baik! Sekarang dia yang kebingungan dan tidak segera dapat membuka mulut. "Sejak aku melihat kau menolong petani-petani miskin, dengan gagar kau melawan tukang-tukang pukul jahat di Pau-ling itu, aku amat kaguin dar tertarik kepadamu, Nona. Aku tahu, juga ayah tentu yakin bahwa dalam urusan ini kau tidak bersalah malah kau berjasa bagi prikemanusiaan, bagi kebenaren dan keadilan, kau menolong yang tergeocet menghajar yang menindas. Akan setapi, hukum tetap hukum yang harus dilaksa-nakan dengan tertib. Kalau ayah meng-ambil keputusan begitu saja tanpa meng-adili terus membenarkan kau, apakah akan kata orang? Terhadap urusan di Pau-ling itu, aku tidak khawatir sama sekali. Akan tetapi urusan ke dua im..... ah, kau tidak tahu, Nona. Ayah pasti akan mencegah maksud hatimu itu, bukan hanya karena menjadi sahaba...