Skip to main content

Posts

Jaka Lola 3 -> karya : kho ping hoo

Dengan lengan kanannya, Hek Lojin memeluk pundak cucunya. "Siu Bi, kau benar-benar menggembirakan hatiku. Kau cerdik, kau pintar, kau tahu akan isi hatiku. Benar, cucuku, kau bersumpahlah bahwa kelak kau akan membalaskan hina-an atas diriku ini kepada Pendekar Buta, dan sekarang juga aku akan wariskan kedua Umu itu kepadamu." "Kong-kong, tanpa hadiah apa pun juga, sudah menjadi kewajibanku untuk membalaskan sakit hatimu' Terlalu sekali Pendekar Buta. Sudah buta matanya, buta pula hatinya, menghina orang se-sukanya. Lengan orang dibuntungi, hemmm, padahal kau seorang tua yang baik dan tidak berdosa, apa dikiranya dia seorang saja yang paling pandai di dunia ini? Jangan khawatir, Kek, aku bersumpah, kelak kalau ada kesempatan tentu aku akan membuntungi lengan kirinya, persis seperti yang telah dia lakukan kepadamu." "Orang hutang harus ada bunganya, Siu Bi. Keenakan dia kalau hanya dibuntungi lengan kirinya seperti aku, harus ada tebusan bagi penderitaanku be...

Jaka Lola 2 -> karya : kho ping hoo

Memang mudah mengenal geduhg keluarga Lee. Di dalam pekarangan de-pan rumah itu terdapat banyak gentong yang masih kosong dan sebuah alat timbangan digantung di sudut. The Sun me-nyeret mayat Kang Moh ke dalam peka-rangan yang masih sunyi itu, kemudian dia mengangkat mayat itu, dilernparkan ke ruangan dalam. Mayat itu melayang ke depan menubruk pintu yang segera terbuka dan menimbulkan suara hiruk-pikuk. Terdengar pekik kaget di sebelah dalam rumah. "Kau kenapa, Kang Moh? He, dia..... dia mati.....” Di dalam rumah menjadi ribut dan terdengar bentakan keras, "Siapa yang main gila di sini?" Lalu melompatlah sesosok bayangan orang tinggi kurus dari dalam. Ketika tiba di luar dan melihat The Sun berdiri bertolak pinggang di dalam pekarangan, orang itu melangkah lebar, menghampiri. The Sun memandang dengan senyum mengejek. Orang ini usianya kira-kira tiga puluh tahun, kelihatan kuat dan gerak-geriknya geslt, tanda bahwa dia mengerti ilmu silat. Teringat akan cerita nona itu, ...

Jaka Lola 1 -> karya : kho ping hoo

The Sun memasuki dusun Ling-chung dengan langkah seenaknya. Pemandangan di sepanjang perjalanan tadi amat indah, mendatangkan rasa tenang dan tenteram di hati, menggembirakan perasaannya. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di kota dan sibuk dengan urusan kerajaan, pertempuran dan peperangan, sekarang keadaan di dusun-dusun terasa amat aman dan tenteram baginya. Musim panen sudah hampir tiba, padi dan gandum di sawah sucsah hamil tua, siap untuk dipotong. Pencuduk dusun, tua muda laki perempuan agaknya enggan meninggalkan sawah ladang yang mereka pelihara setiap hari seperti memelihara anak-anak sendiri, enggan meninggalkan harta pusaka yang juga me-rupakan penyambung nyawa mereka, tu padi-padi menguning. Mereka siang malam menjaga keras terhadap gangguan burung di waktu siang dan tikus-tikus di waktu malam. The Sun adalah anak murid Go-Bi-san, putera mendiang The Siu Kai seorang pembesar militer Mongol yang sekeluarganya terbasmi habis oleh Ahala Beng, kecuali The Sun yang dapat menye...

Pendekar Buta 60 -> karya : kho ping hoo (Tamat)

Dengan susah payah akhirnya sampai juga mereka di pondok kecil yang sudah tua dan berdiri miring di luar hutan lebat. Mereka cepat memasuki pondok yang ternyata kosong. Agak lega hati mereka karena tidak diserang hujan dan angin. "Kita berada di mana?" tanya Kun Hong. Hui Kauw memandang ke luar, bergidik melihat hutan yang tampak amat menyeramkan karena pohon-pohonnya bergoyang-goyang seperti mengamuk diserang angin ribut. Amat berbahaya memasuki hutan di waktu demikian itu. Sewaktu-waktu akan ada pohon yang tumbang. Saking kerasnya angin, banyak pohon kelihatan gundul karena daun-daunnya rontok oleh tiupan angin. "Di luar sebuah hutan lebat. Kurasa untuk sementara kita bersembunyi di sini, menanti sampai hujan dan angin berhenti," katanya sambil mengusap air dari mukanya. "Hui Kauw......." tiba-tiba Kun Hong memeluk mesra dan mendekap kepala gadis itu di dadanya. Gadis itupun balas memeluk dan sampai beberapa lama mereka berdiam diri. Tiba-tiba Kun Hong m...

Pendekar Buta 59 -> karya : kho ping hoo

Kun Hong terkejut. Kiranya Bouw Si Ma si orang Mancu yang pandai memainkan pedang dan memiliki tenaga Iweekang yang lihai ini adalah murid Pak-thian Locu. Agaknya baru sekarang dia ini tahu bahwa gurunya dahulu tewas dalam pertandingan menghadapinya. Namun dia tidak menjadi gentar karena pernah dia mengukur kepandaian orang Mancu ini, juga pernah dahulu bergebrak dengan Ching-toanio. Tadi Hui Kauw sudah membisikinya bahwa dia harus berhati-hati menghadapi beberapa orang yang berada di situ, terutama sekali Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu, dan ketiga Ang-hwa Sam-ci-moi. Lima orang itulah yang merupakan lawan berat, sekarang ditambah lagi dengan Hek Lojin yang kiranya tidak kalah lihainya, dibandingkan dengan yang lima orang itu. "Kalian maju berdua hendak mengeroyokku ? Silakan!" tantang Kun Hong yang mendengar gerakan Ching-toanio dan Bouw Si Ma. Tiba-tiba Hui Kauw berseru, "Ching-toania, mengingat bahwa kau pernah menjadi ibu angkatku, lebih baik kau jangan melawan Kun Hon...