Skip to main content

Posts

Pendekar Buta 43 -> karya : kho ping hoo

Malam itu sehabis makan sekedarnya, Hui Kauw merebahkan diri di atas pembaringan. Jengkel juga hatinya menanti-nanti pelayan yang tak kunjung datang. Akan tetapi ia menghibur hati sendiri dengan pikiran bahwa tentu tidak mudah melakukan penyelidikan tentang seorang yang tak diketahui betul keadaannya di dalam kota sebesar itu. Ia menutup kelambu, akan tetapi sengaja ia tidak membuka pakaian, malah ia berbaring dengan pakaian lengkap dan pedang di dekat bantal. Lilin sudah ia tiup padam karena memang ia ingin mengaso sambil menenteramkan pikirannya yang risau. Sukar sekali ia tidur. Pikirannya kacau-balau, sebagian besar berpikir tentang Kun Hong dengan hati duka, sebagian lagi membayangkan pertemuannya dengan ayah bundanya. Masih hidupkah mereka? Andaikata masih hidup dan dapat bertemu muka dengannya, sukakah mereka menerimanya sebagai anak? Bagaimana nanti sikap mereka terhadapnya? Masih adakah kasih sayang? Dan bagaimana nanti sikapnya sendiri terhadap mereka? Semua ini membuat dadan...

Pendekar Buta 42 -> karya : kho ping hoo

Kun Hong berlutut, tangannya meraba dan....... begitu menyentuh tubuh janda Yo, jari-jari tangannya cepat bergerak memeriksa nadi tangan, memeriksa detik jantung, meraba leher. Dia mengeluh panjang, melepaskan tangan mayat itu, lalu menutupi mukanya dengan tangan mulutnya berkata lirih. "Yo-twaso....... kau telah berkorban untukku....... alangkah besar budi yang kau limpahkan kepadaku. Yo-twaso, biarlah aku bersumpah, aku tidak mau menjadi orang sebelum aku membalas ini semua kepada si keparat The Sun......." "Tidak.......!" Tiba-tiba A Wan yang sudah siuman melepaskan diri dari pangkuan Hui Kauw yang juga menangis perlahan saking terharunya. A Wan lari menghampiri dan memeluk tubuh ibunya, lalu memandang Kun Hong dan berkata lagi. "Tidak, Paman, tidak boleh begitu. Akulah yang akan membalas dendam Ibu terhadap The Sun! Sebelum....... sebelum Ibu mati, ia sudah meninggalkan pesan kepadaku supaya membalas budi Paman dan membalas dendam kepada The Sun. Ah, Ibu.....

Pendekar Buta 41 -> karya : kho ping hoo

Ia telah menyelamatkan Kun Hong, telah membeli keselamatan penolongnya itu dengan pengorbanan yang paling besar yang dapat dilakukan seorang wanita lemah seperti dia. Akan tetapi sekarang muncul wanita gagah itu yang memaki-makinya, yang melihat perbuatannya. "Ya Tuhan....... aku perempuan hina....... perempuan rendah......" Janda Yo tak kuat lagi, kedua lututnya lemas dan ia jatuh nglumpruk di atas lantai, menutupi muka dengan kedua tangannya. Tiba-tiba ia terbelalak memandang ke kanan kiri, menatap pembaringan yang kini sudah kosong, telinganya mendengar gema wanita tadi memaki-makinya, "Perempuan jalang! Lacur! Jangan pegang-pegang dia dengan tanganmu yang kotor!" lalu terdengar lagi, "Bukankah laki-laki tadi kekasihmu? Huh, dan kau berani mendekatkan tubuhmu yang hina dan kotor itu dengan Kwa Kun Hong?" "Ooohhhhh.......!" Janda Yo menangis lagi, kini tersedu-sedan, kemudian ia menubruk pembaringan yang kosong itu. "Kwa Kun Hong........ n...

Pendekar Buta 40 -> karya : kho ping hoo

Ibunya datang membawa air panas. Ia cepat mengusir rasa jengah dan malu ketika melihat keadaan Kun Hong yang setengah telanjang itu, malah perasaan ini lenyap sama sekali dan terganti rasa ngeri dan cemas melihat betapa dada pemuda buta itu tergurat dari atas ke bawah, juga dagunya terluka dan pangkal paha sebelah belakang biru mengembung, punggungnya juga kebiruan. Napas pemuda itu terengah-engah, badannya panas sekali. Dengan air mata mengalir saking bingung dan cemasnya, janda itu lalu membersihkan luka-luka Kun Hong dengan kain yang dicelup air panas. Hilang sudah semua rasa malu dan segan. Air matanya mengalir makin deras ketika ia melihat betapa wajah yang tampan itu nampak pucat dan mulutnya terbuka menahan nyeri. "A Wan, lekas kau pergi panggil sinshe (tukang obat) Thio di jalan raja utara. Katakan ada orang sakit, luka-luka, lekaslah!" "Baik, Ibu. Kasihan paman buta, bagaimana kalau dia....... mati.......?" "Hushh.......? Jangan bicara dengan siapa jug...

Pendekar Buta 39 -> karya : kho ping hoo

Ilmu pedang Sin-kiam-eng Tan Beng Kui memang hebat bukan main. Dia, adalah murid kepala dari mendiang Bu-Tek-kiam-ong Cia Hui Gan ayah Cia Li Cu yang sekarang menjadi Nyonya Tan Beng San. Nyonya ini saja ilmu pedangnya sudah hebat luar biasa, apalagi ilmu pedang Sin-kiam-eng yang menjadi kakak seperguruannya. Memang dahulu ketika masih muda, Tan Beng Kui menjadi harapan mendiang gurunya, karena itu semua kepandaiannya diturunkan kepadanya. Ilmu Pedang Sian-Ii Kiam-sut adalah ilmu pedang turunan yang sesumber dengan Im-yang-sin-kiam, apalagi dimainkan oleh seorang pendekar besar yang sudah matang dalam pengalaman seperti Tan Beng Kui, benar-benar membuat Kun Hong kelabakan ketika dia diterjang dengan dahsyat oleh Sin-kiam-eng. Dengan langkah-langkah Hui-thian-jip-te, Kun Hong berusaha menghindarkan diri dari kurungan sinar pedang lawan. Dia merasa segan untuk balas menyerang setelah kini dia tahu bahwa orang ini adalah ayah dari Loan Ki. Tidak sampai hatinya, kalau dia teringat akan sua...

Pendekar Buta 38 -> karya : kho ping hoo

Kun Hong mengerahkan seluruh tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dia dapat mengusir pengaruh totokan dan jalan darahnya normal kembali, akan tetapi karena pengerahan tenaga ini, gerakannya kurang cepat ketika mengelak dan "craattt!" ujung pedang itu biarpun tidak mengenai lambungnya, masih menancap dan mengiris robek kulit dan daging pada pangkal pahanya bagian belakang! "The Sun keparat jahanan!!" Kun Hong menggereng, tubuhnya menubruk maju, tongkat dan tangan kirinya dikerjakan. Gerakannya cepat laksana kilat menyambar sehingga dia berhasil merampas kembali mahkota dari tangan The Sun, akan tetapi dia tidak berhasil merobohkan The Sun yang cepat menghindar pergi sambil tertawa mengejek. Agaknya pemuda yang ternyata adalah seorang di antara musuh itu telah maklum akan kelihaian Kun Hong dan tidak mau secara ceroboh menyambut serangan tadi. Kun Hong cepat menyimpan mahkota dalam buntalannya lagi dan dadanya penuh hawa amarah, penuh dendam dan penasaran. Ternyata dia tel...