Skip to main content

Posts

Pendekar Buta 33 -> karya : kho ping hoo

Laki-laki Jepang itu tertawa pendek, lalu menepuk dada dengan tangan kiri dan menepuk gagang pedangnya dengan tangan kanan "HuH, kiranya kalian ini hanya ular-ular tanah biasa. Wah, memang nasibku, jauh-jauh datang dari negeriku untuk mencari guru yang pandai di sini, kiranya yang kujumpai sama sekali bukan guru-guru pandai, melainkan penjahat-penjahat biadab. Eh, Lauw Teng, tentang menangkap aku menjadi tawanan mudah saja, akan tetapi katakan dulu siapakah wanita-wanita itu dan mengapa kau menculiknya? Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan perbuatannya." Lauw Teng tertawa bergelak. Agaknya ucapan ini menggelikan hatinya. Dia mengangkat dada dan berkata, "Orang gila... dengarlah baik baik. Memang pekerjaan kami adalah penjaga gunung dan hutan, akan tetapi bukanlah, tukang-tukang menculik gadis-gadis cantik. Ketahuilah, gadis-gadis ini akan kami bawa ke kota raja, karena kaisar baru sedang mengadakan pemilihan gadis-gadis cantik untuk menambah jumlah seli...

Pendekar Buta 32 -> karya : kho ping hoo

Loan Ki adalah seorang gadis yang berdarah perantau. Tak dapat ia bertahan untuk terlalu lama tinggal di rumah. Semenjak kecil sudah biasa ia melakukan perjalanan jauh, merantau bersama ayahnya. Bahkan semenjak ia berusia lima belas tahun, ketika ayahnya menganggap bahwa ilmu kepandaiannya sudah cukup tinggi, dara lincah ini sudah melakukan perantauan seorang diri! Telah dituturkan di bagian depan betapa Pek-tiok-lim, tempat tinggal Tan Beng Kui di tepi laut Po-hai, didatangi Song-bun-kwi sehingga menimbulkan kekacauan, malah beberapa orang anak buah Pek-tiok-lim tewas dan akhirnya oleh kecerdikan dan kepandaian bicara Loan Ki, Song-bun-kwi suka pergi dari tempat itu. Tan Beng Kui adalah seorang yang memiliki ambisi (cita-cita) besar. Di dalam cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas dapat kita baca betapa beberapa kali tokoh ini berusaha untuk mencari kedudukan tinggi, akan tetapi selalu usahanya hanya gagal. Sekarang, biarpun usianya sudah agak tua, ketika dia mendengar tentang perebutan...

Pendekar Buta 31 -> karya : kho ping hoo

Tiba-tiba Song-bun-kwi melayang ke depan sambil berseru, "Kun Hong, ingat! Kau bisa mencelakakan dirimu sendiri. Ingatlah dan tekan perasaanmu..........!" Tubuh kakek itu menyambar ke depan dengan maksud hendak memegang pundak Kun Hong dan menyadarkannya. Akan tetapi alangkah kaget dan ngeri hatinya ketika tiba-tiba Kun Hong memapakinya dengan gerakan seperti tadi, tangan kiri mencengkeram dan tongkat membabat. "Aya........... celaka............!" Kakek itu memekik, cepat mengerahkan segenap tenaganya, melejit merendahkan tubuh untuk mengelak daripada sambaran maut tongkat itu sedangkan kedua tangannya dia pergunakan untuk menghantam lengan kiri Kun Hong yang bercuitan bunyinya mengarah iganya. Juga kali ini tak terdengar suara ketika lengan kiri Kun Hong bertemu dengan kedua lengan kakek itu. Akan tetapi akibatnya hebat bukan main. Tubuh kakek itu terlempar seperti selembar layang-layang putus talinya, lalu jatuh berdebuk dalam jarak enam tujuh meter jauhnya sedang...

Pendekar Buta 30 -> karya : kho ping hoo

Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipi pemuda buta itu. Hui Kauw perih hatinya melihat pemuda buta ini bisa menitikkan air mata. Ingin ia memeluknya, ingin ia menghapus air mata di muka si buta itu, tapi ia tetap berdiri, menanti penjelasan. "Hui Kauw, ketahuilah. Akupun seorang manusia yang telah menyerahkan hati kepada seseorang dan berniat tetap bersetia kepadanya, biarpun ia sudah tiada lagi di dunia. Ia........... ia mati karena aku, Hui Kauw..........." Kemudian dengan suara terputus-putus saking terharu, Kun Hong menceritakan kepada gadis itu tentang Cui Bi, sekaligus tentang kebutaan matanya. Hui Kauw mendengarkan dengan mulut ternganga dan mata terbelalak, dan dari pelupuk matanya mengucurlah air mata di sepanjang kedua pipinya. Demikian terpesona dan terharu ia oleh cerita itu sehingga ia seperti tidak merasa akan membanjirnya air matanya ini dan ia tidak mengusapnya. Makin lama ia mendengarkan cerita Kun Hong, makin tak tahanlah ia dan akhirnya ia terisa...

Pendekar Buta 29 -> karya : kho ping hoo

Sementara itu, Hui Siang juga mati kutunya menghadapi Hui Kauw. Kalau Hui Kauw mau sudah sejak tadi ia dapat merobohkan adiknya. Akan tetapi ia tidak tega dan sekarang melihat betapa Bun Wan sudah kalah iapun berseru nyaring, terdengar suara keras dan pedang di tangan Hui Siang mencelat dan terbang entah ke mana! Gadis cantik jelita yang galak itu, seperti juga Bun Wan, telah dilucuti. Kini iapun berdiri tegak di depan Hui Kauw dengan mata mendelik penuh kebencian. Akan tetapi Hui Kauw tidak perduli kepadanya, melainkan bergerak melangkah ke depan Bun Wan. Matanya mengeluarkan sinar berapi-api yang membuat Bun Wan bergidik. Ada sesuatu dalam sikap nona muka hitam ini yang membuat dia tunduk dan bergidik. "Orang she Bun! Tanpa sengaja aku tadi sudah mendengar semua perbuatanmu yang tak senonoh dan merusak kehormatan nama penghuni Ching-coa-to. Ingat baik-baik ucapanku ini. Biarpun mulai sekarang aku tidak menjadi penghuni Ching-coa-to lagi, akan tetapi kalau kelak aku mendengar ba...

Pendekar Buta 28 -> karya : kho ping hoo

Kun Hong mendengar ini merasa bulu tengkuknya meremang dan dia sudah bergerak hendak pergi diam-diam dari tempat itu, menjauhi mereka dan tidak sudi mencuri dengar percakapan semacam itu. Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh tangan Hui Kauw yang mencengkeram erat-erat, diguncang-guncang sedikit seperti memberi isyarat agar dia jangan bergerak. Kun Hong merasa heran sekali mengapa tangan nona itu dingin dan gemetar. Tentu saja dia tidak tahu betapa dengan muka pucat gadis ini melihat betapa adiknya itu membujuk rayu, memeluk-meluk dengan sikap yang tidak tahu malu. Tiba-tiba Kun Hong merasa dadanya sakit. Teringatlah dia ketika dahulu mencuri dengar percakapan antara Hui Kauw dan ibu angkatnya. Ching-toanio pernah memakinya tergila-gila kepada Bun Wan! Hemm, apakah sekarang Hui Kauw menjadi cemburu dan iri hati melihat pemuda Kun-lun yang digilainya itu bercumbu rayu dengan Hui Siang? Aneh sekali, pikiran ini yang menimbulkan rasa perih di hatinya, sekaligus membuat dia mengamb...