Skip to main content

Posts

Pendekar Buta 23 -> karya : kho ping hoo

"Ha-ha-hi, apakah pohon-pphon bambu putih itu melebihi pohon ini kuatnya?" Song-bun-kwi tertawa bergelak melihat orang itu ketakutan sampai mukanya pucat dan lidahnya terjulur keluar. "Hebat........... luar biasa........... Locianpwe seperti malaikat ..........!" Teng Cun Le memuji, benar-benar baru sekali ini selama hidupnya dia melihat manusia kosen ini. Diam-diam dia merasa girang. "Saya percaya bahwa Locianpwe pasti akan sanggup menggempur Pek-tiok-lim!" Teng Cun Le dengan girang lalu mengajak kakek itu berlari cepat menyusuri pantai timur itu menuju ke utara. Pek-tiok-lim itu terletak di dekat pantai Laut Po-hai, dan memang tempat ini sudah bertahun-tahun dijadikan tempat tinggal seorang tokoh ilmu pedang yang terkenal, yaitu murid pertama dari mendiang Raja Pedang Bu-tek-kiam-ong Cia Hui Gan. Nama tokoh ini adalah Tan Beng Kui berjuluk Sin-kiam-eng. Seperti telah disebut di bagian depan dari cerita ini, Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari ketu...

Pendekar Buta 22 -> karya : kho ping hoo

"Bull!" Seperti layang-layang putus talinya tubuh itu mumbul ke atas, sekali lagi menghantam langit-langit sampai jebol kemudian terbanting ke bawah membikin remuk bangku yang ditimpanya. Juga kali ini tubuh Tengkorak Hitamlah yang melayang-layang, bukan tubuh si kakek kosen. Sakit, marah, dan malu memenuhi benak Tengkorak Hitam, apalagi ketika dia melihat betapa mulai berdatangan orang menonton. Dia menjadi nekat dan kini hendak menggunakan ilmu pukulan. Dia menerjang lagi dengan tangan terkepal. Tiba-tiba tubuhnya yang merunduk dengan kepala di depan seperti laku seekor domba hendak menanduk ayam, berhenti di tengah jalan, tepat di muka kakek itu. Kepalanya tertahan sesuatu. Matanya melirik dan alangkah marahnya melihat bahwa kakek itulah yang menahan kepalanya dengan telapak tangan. Dia mengumpat caci, kedua tangannya menghantam bergantian, disusul kakinya yang juga mengirim tendangan-tendangan maut. Akan tetapi, serangan-serangannya mengenai tempat kosong belaka, atau teg...

Pendekar Buta 21 -> karya : kho ping hoo

Kehadiran kakek ini menarik perhatian orang. Betapa tidak. Seorang kakek yang usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, rambutnya jarang-jarang dan pendek setengah gundul, kumis dan jenggot pendek-pendek pula dan kaku, sebagian besar sudah putih. Pantasnya kepala seperti ini dimiliki seorang pendeta, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian pendeta. Pakaian yang membungkus tubuh tinggi besar kokoh kuat itu adalah pakaian petani yang kumal dan longgar, lengan bajunya lebar sekali seperti lengan baju tukang-tukang main sulap yang menyembunyikan benda-benda di dalamnya. "Heee, pelayan!" suaranya menggeledek dan menggetarkan ruangan restoran itu. "Bawa ke sini cepat seguci besar arak baik, tiga kati mi, dua kati daging babi panggang dan tiga empat macam masakanmu yang paling terkenal. Lekas kataku, perutku lapar nih!" Sambil menarik napas panjang dengan nikmat kakek ini menjatuhkan diri ke atas sebuah bangku yang mengeluarkan bunyi mengenaskan karena hampir tidak ...

Pendekar Buta 20 -> karya : kho ping hoo

Beng San menggigit bibir, menahan suaranya yang hendak menjerit-jerit. Hampir tak kuat dia menahan gelora hatinya yang kalang-kabut menghadapi malapetaka ini. Seluruh batinnya diliputi kemarahan hebat. Kemudian kakinya menendang. Sebuah batu besar terlempar bergulingan. Pedangnya dikerjakan. Pohon-pohon roboh malang melintang. Beng San terus menyerbu pondoknya yang masih terbakar. Ditendangnya, dihantamnya, dibabatnya sehingga hiruk-pikuk suara pondok itu roboh. Batu-batu beterbangan, tidak ada sebatang pun pohon utuh, semua dibabat rata dengan tanah! Dia mengarnuk terus, dari kerongkongannya terdengar suara menggereng-gereng, matanya liar dan semalam itu dia membuat puncak yang tadinya indah menjadi tempat yang rusak binasa. Tanam-tanaman bunga ludas, pondok habis, pohon-pohon ambruk, batu-batu malang melintang, banyak yang hancur. Dalam keadaan seperti inilah tiga orang murid kepala mendapatkan gurunya. Beng San masih berdiri sepcrti patung, pedang di tangan, muka beringas mata liar....

Pendekar Buta 19 -> karya : kho ping hoo

Cengkeramannya kepada orang ke dua juga meleset, malah orang itu mengirim tendangan yang aneh gerakannya ke arah bawah pusarnya.Serangan yang singkat namun mematikan. Dan pada saat itu, orang ke tiga mengirim serangan dengan telunjuk menuding dan yang mengeluarkan angin berciutan ke arah lehernya. Cepat Beng San menggerekkan tangan kiri berusaha menangkap kaki yang menendang. Dia berhasil menangkapnya tapi cepat-cepat melepaskannya kembali ketika tangannya merasa memegang sebuah kaki bersepatu yang kecil, kaki seorang wanita! Adapun pukulan aneh yang mendatangkan angin berciutan itu, dia sampok dengan tangan sambil mengerahkan hawa pukulan Pek-in-hoat-sut. Karena tidak mengira akan kehebatan pukulan ini, dia mendiamkan saja ketika pukulan meleset mengenai ujung lengan bajunya. "Brettt!" Ujung lengan baju itu robek seperti ditusuk pedang! "Hebat.......!" serunya kagum, maklumlah dia bahwa tiga orang ini agaknya tiga wanita yang sakti. "Siapakah kalian? Mengapa d...

Pendekar Buta 18 -> karya : kho ping hoo

Su Ki Han adalah murid tertua dari Thai-san-pai, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, seorang gagah yang sudah dipercaya oleh Beng San. Dia cepat berlutut di depan Beng San dan menjawab, "Mana teecu (murid) berani tidak mentaati aturan suhu? Sama sekali murid dan para adik seperguruan tidak berani bersikap kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi orang-orang ini tidak memberi kesempatan kepada kami untuk bicara. Datang-datang mereka menyerang kami dan sudah tentu saja kami terpaksa mempertahankan diri dan mempertahankan nama besar Thai-san-pai. Harap suhu sudi menyelidiki dan kalau teecu dan adik-adik seperguruan salah, kami sanggup menerima hukumannya." Lega hati Beng San dan dia percaya penuh kepada murid-muridnya ini. Dia lalu menoleh lagi kepada Seng Tek Cu, memandang penuh kekhawatiran dan pertanyaan sambil berkata. "Totiang mendengar sendiri ucapan muridku. Sebetulnya apakah yang terjadi dan mengapa Totiang membawa serta pasukan yang terdiri dari saudara-sau...

Pendekar Buta 17 -> karya : kho ping hoo

Kakek itu kini menggunakan pinggir telapak tangan menangkis dua kali. "Krekki! Krek!!" Tubuh dua orang saudara Kam terpental dan lengan tangan mereka patah-patah oleh tangkisan yang mengandung pukulan ini. "Ha-ha-ha, bocah-bocah macam kalian mana mampu melawan Song-bun-kwi?" Kakek itu tertawa bergelak. Kam Bok dan Kam Siok menggigit bibir menahan sakit lalu bangun berdiri dengan muka pucat. "Hwesio jahat, kau bukan Song-bun-kwi......!!" bentak Kam Bok yang sudah pernah mendengar bahwa Song-bun-kwi biarpun juga seorang tinggi besar namun bukan seorang hwesio dan tokoh besar itu tak pernah bertempur secara keroyokan melainkan selalu turun tangan seorang diri tanpa teman. "Kalian semua bukan orang-orang Thai-san-pai!" seru Kam Siok sambil memandang ke sekeliling. "Orang-orang Thai-san-pai takkan berbuat curang seperti pengecut-pengecut macam kalian!" Ucapan dua orang saudara Kam ini membangkitkan kemarahan. Terdengar suara wanita memberi a...