Skip to main content

Posts

Pendekar Buta 13 -> karya : kho ping hoo

"Tentu saja. Biar mendongkol aku belum ingin melihat kau mampus. Tapi kau....... kau kembali membela Hui Kauw mati-matian. Kau mencinta Hui Kauw seperti juga kau cinta Lauw Swat-ji si gadis genit puteri Hui-houw-pangcu itu dan seperti kau cinta si janda muda. Cih, orang mata keranjang macammu mana patut dibantu?" "Hemmm, lidahmu tajam sekali, adik Loan Ki. Akan tetapi kenapa kau tadi kembali membantu aku secara tiba-tiba dan mengajakku ke luar dari pulau itu?" Suara Loan Ki terdengar kaku membayangkan kemengkalan hatinya, "Habis, kau tidak suka menikah dengan Hui Kauw, masa yang begini saja kau tanya?" Makin heranlah Kun Hong. Mendengar ini semua, jawabannya hanya satu, yaitu bahwa gadis ini cinta kepadanya. Akan tetapi sikapnya sama sekali bukan seperti orang mencinta. "Kau melongo seperti orang bingung. Benar-benar bodoh sekali. Masa yang begini saja tidak mengerti, Hong-ko? Kalau kau tergila-gila kepada seorang gadis masa aku harus berbaik kepadamu...

Pendekar Buta 12 -> karya : kho ping hoo

Kun Hong tersenyum. Terbayang dalam benaknya wajah Bun Wan yang memang gagah, dan terbayang pula wajah Cui Bi, maka bangkitlah perasaan bangga dan terharu, juga sedih. Cui Bi sudah mempunyai tunangan segagah Bun Wan, kenapa memberatkan dia? Padahal wajah dan bentuk tubuh Bun Wan benar-benar dapat menjatuhkan hati setiap orang wanita, dan buktinya Loan Ki gadis lincah yang berhati angkuh ini sekali berjumpa terus memuji-muji. "Dia putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja gagah dan lihai." Hening sejenak. Kun Hong heran, merasa betapa gadis di sebelahnya yang menggandeng tangannya ini agaknya berpikir dan menimbang nimbang, entah apa yang dipikirkannya. "Tapi aku tidak suka kepadanya, Hong-ko," katanya tiba-tiba. "Heee? Apa maksudmu? Kenapa tidak suka?" tanya Kun Hong heran karena pertanyaan yang tiba-tiba itu memang tak diduganya sama sekali, tadi memuji sekarang tidak suka. Bagaimana ini? "Aku malah benci padanya! Dia tadi datang-datang memakimu s...

Pendekar Buta 11 -> karya : kho ping hoo

"Ha-ha-ha, kau lucu sekali, Nona cilik. Masa orang tua diajak balap lari. Tapi biarlah, kalau tidak dituruti kehendakmu, khawatir kau akan rewel dan ngambek, bisa gagal maksud pinceng menghubungi ayahmu. Ha-ha-ha!" "Bagus, kau lihat bunga bwee yang tumbuh di sana itu?" Ka Chong Hoatsu mengangguk sambil tersenyum. Pohon bunga bwee itu tumbuh di sebelah kiri bangunan, kurang lebih dua ratus meter jaraknya dari situ. Bagi kakek ini, beberapa belas kali lompatan saja di sudah akan sampai di sana! "Nah, kita berlomba lari cepat sampai di tempat itu. Siapa yang dapat memegang bunga bwee itu lebih dulu, dia menang. Setuju?" "Ha-ha-ha setuju, setuju!" jawab hwesio tua. "Nah, kau bersiaplah, Hwesio. Aku akan menghitung sampai tiga, sebelum hitungan sampai tiga kau tidak boleh mulai lari. Jangan curang!" "Ha-ha-ha, boleh....... boleh......." jawab Ka Chong Hoatsu, gembira juga menyaksikan permainan kanak-kanak ini. Akan tetapi Loan Ki t...

Pendekar Buta 10 -> karya : kho ping hoo

Malah dia merupakan orang yang dipilih untuk mendidik Pangeran Souw Bu Lai yang dipandang menjadi seorang bangsawan yang mempunyai harapan untuk merampas kembali kerajaan yang hilang. Kedudukannya demikian besar dan tinggi, masa sekarang dia harus menggunakan kepandaiannya untuk bertempur sungguh-sungguh melawan seorang pemuda yang usianya dua puluh lima tahun paling banyak, yang buta kedua matanya lagi? Inilah yang membuat Ka Chong Hoatsu ragu-ragu karena dalam pertempuran ini, kalau dia menang takkan berarti apa apa akan tetapi kalau sampai kalah namanya akan hancur luluh sekaligus! Dan dia pun maklum bahwa pemuda buta ini benar-benar memiliki simpanan rahasia ilmu yang tak boleh dipandang ringan. Kedua jagoan ini sudah saling berhadapan memasang kuda-kuda, seperti dua buah patung tak bergerak sama sekali. Ka Chong Hoatsu biarpun sudah tua namun tubuhnya tinggi besar dan kuda-kudanya gagah, kedua kaki terpentang, tubuh agak direndahkan, tongkat yang panjang dan berat itu melintang di...

Pendekar Buta 9 -> karya : kho ping hoo

Serangan ini hebat bukan main karena Hui Kauw mempergunakan jurus daripada ilmu pedangnya yang ia rahasiakan. Ka Chong Hoatsu adalah seorang tokoh besar yang amat lihai, namun dia terkesiap juga menghadapi serangan luar biasa ini, yang bagaikan halilintar menyambar ke arah dadanya. Terpaksa dia melepaskan cengkeramannya pada pundak Kun Hong dan berjungkir balik ke belakang sambil mengibaskan ujung lengan bajunya yang panjang. Hampir terpental lepas pedang di tangan Hui Kauw ketika dikebut oleh ujung lengan baju ini, Akan tetapi Hui Kauw tidak menyerang terus, melainkan terisak-isak dan meloncat jauh, berlari sambil menangis lenyap dalam gerombolan pohon di hutan. Dari jauh masih terdengar suara tangisnya yang kian menghilang. Kun Hong bersyukur sekali. Dia maklum bahwa gadis itu tadi menyerang Ka Chong Hoatsu dengan maksud menolongnya terlepas daripada cengkeraman yang membuat dia tidak berdaya. Pada saat itu terdengar Loan Ki berseru. "Bagus, Hong-ko. Jangan takut, aku bantu kau!...

Pendekar Buta 8 -> karya : kho ping hoo

Tak enak juga hati Loan Ki untuk membandel. Ia mengerling dengan mata ragu ke arah Kun Hong yang masih duduk bersila, lalu sinar matanya menyambar seperti kilat ke arah muka Hui Kauw yang hitam, setelah itu ia mendengus marah dan ikut keluar pula. Kamar itu sunyi. Suara orang-orang di luar bercakap-cakap tidak dapat terdengar jelas karena daun pintu kamar itu ditutup dari luar. Kun Hong melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak nona itu, lalu dengan perlahan dia mengurut jalan darah di punggung dan belakang leher. Terdengar nona ini mengerang perlahan. Kun Hong cepat menarik kembali tangannya dan melompat turun dari pembaringan, berdiri menanti. "Uuuhhh, panas......." nona itu merintih. "Tidak apa, Nona. Hawa panas itu kau perlukan untuk mendorong peredaran darah di tubuhmu sehingga engkau akan menjadi sembuh benar benar." Hui Kauw membuka matanya, kaget melihat betapa tubuhnya bagian atas tak berbaju, apalagi melihat Kun Hong berdiri di situ dengan kepala tund...

Pendekar Buta 7 -> karya : kho ping hoo

Pendeta itu tertawa bergelak dan Kun Hong tentu saja tidak tahu betapa hwesio ini dengan kedipan matanya memberi isyarat kepada orang-orang yang berada di situ. Kemudian bertanya, "Orang muda, biarpun matamu buta tapi hatimu melek. Tentu saja pinceng tidak mau memaksa kalau kau tidak menghendaki perkelahian. Akan tetapi kau datang di sini menimbulkan keributan, apa sih yang kau inginkan sekarang?" "Maaf, Lo-suhu. Sama sekali saya tidak bermaksud mengadakan keributan. Semua yang dilontarkan kepada saya dan nona Hui Kauw ini adalah fitnah belaka. Tidak ada yang saya kehendaki kecuali agar orang tidak membunuh nona Hui Kauw, membiarkan saya mengobatinya sampai sembuh kemudian memberi kebebasan kepada saya dan nona Loan Ki untuk meninggalkan pulau ini dengan aman." Kembali Ka Chong Hoatsu mengedipkan matanya kepada Ching-toanio dan yang lain-lain, kemudian dia tertawa lagi. "Omitohud, kiranya sahabat muda yang lihai pandai pula ilmu pengobatan. Nona itu kulihat ama...