Skip to main content

Posts

Pendekar Buta 1 -> karya : kho ping hoo

Puncak Lao-san menjulang tinggi di antara pegunungan di Propinsi Santung yang kecil-kecil,biarpun sebenarnya Lao-san hanya 1100 meter. tingginya. Pemandangan alam dari puncakini amat indahnya. Memandang ke sebelah timur tampak Laut Kuning yang luas, ke sebelah utara Selat Pohai, ke sebelah barat Pegunungan Santung dengan puncak Thai-san tampak gagah menjulang tinggi, kemudian ke sebelah selatan tampak sawah ladang dan perkampungan yang subur. Hari masih pagi benar, namun sepagi itu sudah ada, seorang manusia duduk di atas batu gunung di puncak Lao-san. Angin dari Laut Kuning menambah hawa gunung menjadi makin dingin sejuk, memecahkan kulit muka dan menusuk-nusuk tulang. Namun orang yang duduk di atas batu itu seakan-akan tidak merasakan ini semua. Tentu orang akan mengira dia telah membeku atau membatu, kalau saja mulutnya tidak terdengar bersajak dengan suara nyaring, jelas dan bersemangat. "Wahai kasih, aku di sini! Di puncak Lao-san menjulang tinggi Menjadi raja sunyi di angkas...

Rajawali Emas 25 - Kho Ping Hoo (tamat)

"Mari kubantu, Locianpwe, peganglah tanganku nanti kutarik keluar." Pak-thian Locu girang, memegang tangan kanan Kun Hong yang segera menariknya keluar dari lubang itu, Akan tetapi begitu dirinya sudah tertolong kakek itu ingat kembali akan pertandingan mereka. Pedang di tangan kanannya tiba-tiba menyambar ke arah leher Kun Hong. Pada saat itu, tangan kanan Kun Hong masih saling berpegang dengan tangan kiri kakek itu, dan pedangnya masih ia pegang dengan tangan kiri, keadaannya amat tidak menguntungkan. Namun berkat nalurinya yang tajam, menghadapi serangan ini ia dapat bereaksi cepat sekali, tangan kirinya mengangkat pedang menangkis sambil menarik kembali tangan kanan yang menolong kakek itu tadi. "Tranggg!" Dua pedang bertemu, pedang putih dan pedang merah, dan... Kun Hong roboh terguling-guling saking hebatnya tenaga kakek ini. Pak-thian Locu tertawa senang, pedangnya terus menyambar ke arah tubu...

Rajawali Emas 24 - Kho Ping Hoo

Setelah belasan jurus saling serang, diam-diam Tok Kak Hwesio mengeluh di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Song-bun-kwi adalah seorang tokoh besar yang sakti dan yang jauh lebih tinggi ilmunya daripada dia sendiri, akan tetapi sungguh ia tidak mengira bahwa cucunya, seorang pemuda yang usianya baru dua puluhan tahun, sudah memiliki kepandaian begini tinggi dan tenaga yang begini kuat. Di lain pihak, Kong Bu juga merasa sukar untuk menjatuhkan hwesio itu karena dia tak pernah berani melakukan tangkisan terhadap cengkeraman lawan. Dengan cara mengelak tiba-tiba ia dapat balas memukul sehingga biarpun ia dapat mendesaknya dengan hujan pukulan, namun masih kurang cepat dan selalu dapat dielakkan oleh hwesio kosen itu. Apa pula kalau hwesio itu menangkis sambil mencengkeram, ia selalu harus menghindarkan tangannya dan menarik kembali pukulannya. Tiba-tiba ia mendengar suara lirih di dekat telinganya, "Cengkerama...