Skip to main content

Posts

Raja Pedang 25 (Kho Ping Hoo)

"Baiklah," akhirnya dia berkata. "Mari kita kembali." la lalu menggandeng tangan dua orang nona cilik itu yang tidak menolak. Sambil bergandengan tangan Beng San ditengah-tengah, tiga orang anak itu nnenyeberang dan kembali ke tempat tadi. "Ayah.....! Tunggulah, kami kembali ke sana.....!" Kwa Hong berteriak keras-keras ke arah tepi rawa. Mendadak mereka melihat lampu penerangan dipasang di tepi rawa itu sehingga makin mudah-lah bagi mereka karena sekarang tempat yang dituju kelihatan nyata.   Setelah dekat tepi rawa, dengan he-ran mereka melihat Hoa-san Sie-eng lengkap bersama Lian Bu Tojin dan tokoh-tokoh Hoa-san ini bersama Souw Kian Bi si penculik, seorang hwesio tinggi besar dan beberapa orang panglima Mongol? Bagaimana mereka bisa rukun seperti itu setelah Souw Kian Bi menculik mereka? Kwa Hong dan Thio Bwee terheran, akan tetapi juga girang sekali. Setelah tiba di tempat dangkal, mereka berlari mening-galkan Beng San, untuk menjumpai ayah masin...

Raja Pedang 24 (Kho Ping Hoo)

"He, Souw-kongcu. Tosu tua ini sudah berjanji takkan bersekongkol dengan Pek lian-pai, bukankah itu sudah cukup? Hayo lekas keluarkan dua orang bocah perempuan itu," kata Tai-lek-sin dengan suara keras. Memang sesungguhnya inilah yang dikehendaki oleh para pimpinan Mongol. Mereka amat khawatir kalau-kalau para partai persilatan besar mengadakan kerja sama dengan Pek-lian-pai. Mereka berusaha sekuatnya untuk memisahkah partai-partai ini dari Pek-lian-pai agar kedudukan Pek-lian-pai kurang kuat, malah kalau mungkin memecah-mecah para partai itu agar saling serang sendiri. Kalau sekarang ketua Hoa-san-pai ber-janji takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai, hal ini sudah merupakan sebuah kemenangan bagi pemerintah.   Souw Kian Bi bukan seorang bodoh, Bukan maksud pemerintah untuk memusuhi setiap partai persilatan, apalagi partai sebesar Hoa-san-pai yang kuat. Seorang musuh saja, Pek-lian-pai sudah cukup memusingkan, jangan sampai di-tambah musuh ke dua. la harus mengor-bankan p...

Raja Pedang 23 (Kho Ping Hoo)

Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang adalah seorang cakti, akan tetapi dia amat jujur dan mudah sekali dihasut atau dibujuk orang. Akhirnya dia bertennu dengan putera pangeran yang bernama Souw Kian Bi ini. Souw Kian Bi yang amat licin dan cerdik segera dapat membujuk Swi Lek Hosiang untuk membantunya. Memang sebelumnya dia sudah mengenal Swi Lek Hosiang yang dahulu adalah seorang sahabat dari pamannya, yaitu Lo-tong Souw Lee. Tentu pembaca masih ingat kepada Lo-tong Souw Lee, pencuri pedang Liong-cu Siang-kiann itu. Memang, Souw Lee bukanlah orang biasa, melain-kan dia juga seorang bangsawan Mongol yang sakti dan yang tidak suka melihat kelakuan bangsanya menindas orang-orang Han. Oleh karena itu Souw Lee mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam dan melarikan diri. Dalam percakapan ketika keduanya bertemu, Souw Kian Bi dengan cerdik menjanjikan bantuan kepada Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang untuk mencari Souw Lee yang masih terhitung saudara kakek-nya, malah memberi janji bahwa kelak akan m...

Raja Pedang 22 (Kho Ping Hoo)

Lian Bu Tojin mendapat kenyataan dari rabaan tangannya pada pundak anak itu bahwa memang anak itu kosong tubuhnya, tidak memiliki tenaga dalam maka lenyaplah kecurigaannya bahwa I cucu-cucu muridnya roboh oleh peng-| gunaan tenaga dalam yang luar biasa. la tertawa sambil melepaskan tangannya.   "Ha, kau tidak apa-apa, tidak terluka. Beng San, sekarang ceritakan, apa kehendakmu datang ke Hoa-san mencarit pinto." "Teecu datang membawa sepucuk surat dari sahabat lama Totiang. Inilah suratnya." Beng San menyerahkan surat tulisan Lo-tong Souw Lee dengan meng-ucapkan kata-kata seperti yang dipesan oleh kakek itu. Memang kakek tua itu memesan kepadanya agar jangan mengucapkan namanya di depan Lian Bu Tojin. Lian Bu Tojin tersenyum dan menerima surat itu. Jantung kakek ketua Hoa-san-pai ini berdetak keras ketika dia melirik ke arah nama pengirim surat itu akan tetapi kekuatan batinnya yang su-dah tinggi itu membuat wajahnya tetap tersenyum, sama sekali tidak memper-lih...

Raja Pedang 21 (Kho Ping Hoo)

Dua orang anak laki-laki itu saling pandang. Mereka ingin memperlihatkan di depan Kwa Hong bahwa mereka gagah dan tidak kalah oleh yang lain. Sekarang Kwa Hong tidak mau melihat mereka mengadu kepandaian, untuk apa mereka lanjutkan? Akar tetapi kalau tidak pergi mencari tempat lain, juga dapat dianggap takut atau pengecut. Kwa Hong yang melihat keraguan mereka lalu tertawa. "Sudahlah, simpan pedang kalian. Kalau mau menentukar» siapa yang lebih unggul, mudah saja. Kalian pergunakan ranting yang tidak berbahaya, aku akan menyediakan tinta. Ujung ranting diberi tinta dan ranting itu dimainkan seperti ujung pedang. Siapa yang lebih dulu terkena tinta bajunya dialah yang kalah." Usul ini didukung oleh Thio Bwee yang tentu saja juga tidak menghendaki pertempuran sungguh-sungguh antara kakaknya dan Kui Lok. Dua orang anak itu pun setuju dan masing-masing men-cari sebatang ranting yang lembek. Segera mereka membasahi ujung ranting masing-masing dengan tinta dan mulailah mereka ...

Raja Pedang 20 (Kho Ping Hoo)

Sementara itu, para tosu yang telah roboh oleh Souw Kian Bi, menjadi makin khawatir menyaksikan betapa sumoi mereka yang terkenal gagah itu pun belum berhasil rnerobohkan lawan itu dengan sepasang pedangnya. Diam-diam mereka lalu berunding, kemudian seorang di antara lima tosu itu lari naik ke puncak untuk melaporkan hal itu kepada Lian Bu Tojin. Dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketua Hoa-san-pai itu, belum pernah ada anak murid Hoa-san-pai yang berani mengganggunya di waktu dia sedang bersamadhi. Kali ini tosu itu memaksa dia sadar dari samadhinya dan menceritakan tentang serbuan seorang laki-laki muda yang kurang ajar dan lihai rlmu silatnya. Biarpun sedang marah, tosu tua itu mengelus jenggotnya dan menahan napas untuk menekan kemarah-an sehingga dia tenang dan sabar kembali. "Kau bilang dia bernama Souw Kian Bi?" Kakek ini mengingat-ingat akan tetapi tidak merasa mempunyai musuh ber she Souw. Jangan-jangan sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul), pikirnya. Ini...