Skip to main content

Posts

Raja Pedang 10 (Kho Ping Hoo)

“Suhu, sebetulnya suhu The Bok Nam juga sudah mengangkat teecu sebagai murid dan hendak menurunkan Yang sin kiam, akan tetapi.... Teecu tidak tega meninggalkan suhu seorang diri....” “Bagus! Anak bodoh, kenapa tidak bilang dari kemarin? Hayo kau lekas pergi kesana. Lekas....!” Beng San tak dapat membantah dan ketika dia dengan gerakan ringan memanjat tebing, dia mendengar dibawah suhunya itu tertawa-tawa gembira. The Bok Nam menerima kedatangan Beng San dengan merengut. “Hemmmm, murid apa kau ini? kenapa begitu lama tidak muncul?” Beng San menjatuhkan diri berlutut. “The suhu, harap ampunkan teecu yang lama tidak datang karena teecu harus menghafalkan Im sin kiam dari Phoa Ti suhu.” Wajah yang muram itu menjadi terang. “Aha, kiranya sahabatku Phoa Ti juga sudah sadar dan insyaf. Siapa yang merampas kitabnya?” Diam-diam Beng San kagum juga. Tanpa melihat kakek ini sudah tahu bahwa Phoa Ti diserang orang dan dirampas kitabnya. “Hek hwa Kui bo yang merampasnya, suhu”. Lalu dia mence...

Raja Prdang 9 (Kho Ping Hoo)

Karena bersungguh-sungguh hendak menolong kakek ini, Beng San memperhatikan dengan seksama, lalu dia berdiri dan meniru gerakan-gerakan itu. Mula-mula tentu saja kaku dan keliru, akan tetapi dengan tekun dia mempelajari dengan petunjuk kakek itu. Kemudian dia di beritahu tentang gerakan tangan dan tubuhnya. Kakek itu nampak bersemangat sekali, berkali-kali memuji, “Tulang bersih, bakat-bakat baik....” Pujian ini memperbesar semangat Beng San dan membuat kakek itu tak mengenal lelah. Setelah dapat melakukan jurus pertama dengan baik, dia mendapat petunjuk cara bernapas dalam melakukan jurus ini dan cara menyimpan hawa dalam tubuh. Kemudian dia diberi pelajaran jurus kedua yang disebut Khong ji twi san (hawa kosong mendorong bukit). Jurus ketiga disebut Khong ji lo hai (hawa kosong mengacau lautan). Untuk mempelajari tiga jurus ini dengan baik mereka telah berlatih sehari penuh. “Phoa Ti, mana jago mudamu?” berkali-kali suara di seberang lain bertanya. “Orang she Tek, ajalmu sudah dek...

Raja Pedang 8 (Kho Ping Hoo)

“Enak saja,” ia menggerutu, ”Taruhan yang tidak adil. Kalau tidak ada kutu busuknya, kau memotong hidungku. Bagaimana kalau ada kutu busuknya? Aku tidak punya apa-apa, hidungku adalah barang yang paling kusayang, kalau itu kutaruhkan, habis apa taruhanmu? Apakah kau juga mempertaruhkan hidungmu?” Hek hwa Kui bo tak terasa lagi meraba hidungnya yang mancung. Tak mungkin ia mengorbankan hidungnya. Ia berpikir-pikir lalu berkata sambil tertawa mengejek, “Yang paling berharga padaku adalah kepandaianku. Aku pertaruhkan kepandaianku. Setiap kali kau memperoleh kutu busuk, kuhadiahkan sebuah ilmu silat kepadamu.” “Hah, untuk apa ilmu silat?” Beng San berkata. Perempuan aneh itu menengok dan matanya berapi. “Anak tolol! Kalau kau menerima satu macam saja ilmu silatku, apa kau kira orang-orang macam ayah anak Hoa san pai itu mampu mengganggu dan menghinamu?” Beng San memutar otaknya. Betul juga. Wanita ini lihai bukan main. Alangkah baiknya kalau dia bisa memiliki kelihaian seperti wanita...